Narrative Inquiry: Memahami Cerita di Balik Pengalaman Mengajar Bahasa
Malang – Salah satu sesi paling berkesan dalam Konferensi Internasional TEFLIN 2025 di Universitas Brawijaya, Malang, datang dari plenary talk oleh Prof. Gary Barkhuizen, pakar terkemuka dalam bidang narrative inquiry dan teacher identity research.
Dalam paparannya, Prof. Barkhuizen menjelaskan bagaimana narasi bukan sekadar kisah pribadi, tetapi jendela untuk memahami pengalaman, keyakinan, dan praktik profesional guru bahasa. Pendekatan narrative inquirymenempatkan cerita guru dan pelajar sebagai data utama untuk menggali makna di balik pengalaman mengajar dan belajar bahasa Inggris.
“Setiap guru membawa cerita unik tentang perjalanan mengajarnya. Narrative inquiry membantu kita melihat bagaimana cerita-cerita itu membentuk identitas profesional dan nilai-nilai yang kita bawa ke ruang kelas,” ungkap Prof. Barkhuizen di hadapan peserta konferensi yang terdiri dari akademisi, peneliti, dan pendidik dari berbagai negara.
Selama sesi berlangsung, suasana terasa reflektif sekaligus menginspirasi. Banyak peserta, termasuk dosen-dosen Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN KHAS Jember, merasa pendekatan ini membuka cara pandang baru terhadap penelitian kualitatif, terutama dalam konteks pengajaran bahasa dan pengembangan guru.
Pendekatan narrative inquiry berfokus pada cerita sebagai sumber makna. Peneliti tidak hanya menanyakan “apa yang terjadi,” tetapi juga “bagaimana dan mengapa hal itu bermakna bagi individu.” Dalam konteks pendidikan bahasa, metode ini membantu peneliti memahami proses belajar-mengajar secara lebih manusiawi—menyelami emosi, motivasi, bahkan konflik batin yang dialami guru dan siswa.
Metode ini biasanya melibatkan wawancara mendalam, refleksi tertulis, atau analisis pengalaman pribadi yang kemudian disusun menjadi narrative accounts—cerita-cerita yang menghubungkan teori, praktik, dan identitas profesional.
Dosen-dosen TBI yang mengikuti sesi ini menilai bahwa narrative inquiry dapat menjadi alternatif penelitian yang relevan untuk mahasiswa dan dosen pendidikan bahasa Inggris, terutama dalam mengkaji pengalaman belajar, praktik pengajaran, dan refleksi diri guru di era digital.
“Kami sering lupa bahwa data terbaik bisa berasal dari cerita kita sendiri,” ujar salah satu peserta TBI usai sesi. “Prof. Barkhuizen mengingatkan bahwa menjadi peneliti bukan hanya mengumpulkan angka, tapi juga memahami kehidupan di baliknya.”
Plenary session ini menjadi salah satu highlight TEFLIN 2025 yang meninggalkan kesan mendalam. Melalui narrative inquiry, para pendidik diingatkan kembali bahwa penelitian tidak selalu tentang menemukan jawaban universal, tetapi tentang mendengarkan cerita manusia dan menemukan makna di dalamnya.




