info@uinkhas-jember.ac.id 081336843006

Mengajar dan Belajar di Negeri Seribu Senyum: Perjalanan Ahmad Ubaidillah di Thailand Selatan

Home >Berita >Mengajar dan Belajar di Negeri Seribu Senyum: Perjalanan Ahmad Ubaidillah di Thailand Selatan
Diposting : Senin, 20 Oct 2025, 22:56:48 | Dilihat : 52 kali
Mengajar dan Belajar di Negeri Seribu Senyum: Perjalanan Ahmad Ubaidillah di Thailand Selatan


Narathiwat, Thailand (2025) – Bagi Ahmad Ubaidillah, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, pengalaman mengikuti Program Asistensi Mengajar (ASJAR) di luar negeri bukan sekadar menambah baris dalam CV, melainkan sebuah perjalanan hidup yang membuka mata dan hati.

Selama dua bulan di Bukit Prachauptham School, Kecamatan Cho-Airong, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, Ubaid mengajar Bahasa Inggris di setingkat SMA (MA) dengan total 12 kelas per minggu. Jadwal padat itu masih dilanjutkan dengan kegiatan mengajar Al-Qur’an di asrama pada malam hari.

“Capek? Tentu. Tapi saya selalu ingat bahwa setiap kelas adalah ladang pahala sekaligus ruang belajar bagi saya sendiri,” tuturnya dengan nada tenang.

Motivasi awal Ubaid mengikuti program ini sederhana: mencari pengalaman internasional dan mengembangkan kemampuan bahasa Inggris. Namun, setibanya di Thailand, ia justru menemukan tantangan baru yaitu barrier bahasa. Tidak semua siswa dan guru memahami Bahasa Inggris, bahkan Bahasa Melayu yang digunakan memiliki dialek berbeda.

Untuk mengatasinya, Ubaid memanfaatkan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam menerjemahkan beberapa materi dari Bahasa Inggris ke Bahasa Thailand.

“AI jadi jembatan komunikasi. Tapi di luar itu, saya juga pakai banyak ice breaking agar suasana kelas cair. Pengalaman di Pramuka banyak membantu,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain tantangan akademik, kehidupan di sekolah juga memperkaya sisi spiritualnya. Ubaid menyebut lingkungan sekolah di Thailand sangat religius dan menghormati nilai-nilai Islam. “Tidak ada salaman antar lawan jenis, semuanya sangat sopan dan Islami. Mereka juga sering meminta saya untuk menjadi imam dan memimpin doa,” kenangnya.

Dalam pesan untuk generasi berikutnya, Ubaid menekankan pentingnya kesiapan mental, spiritual, dan bahasa.

“Yang mau ke Thailand harus siap secara agama dan komunikasi. Kadang kita diminta adzan atau jadi imam, jadi harus punya bekal. Dan untuk bahasa, jangan remehkan. Belajar Bahasa Thailand sedikit-sedikit itu penting,” sarannya.

Ia juga berharap agar sistem dan fasilitasi program ASJAR bisa terus ditingkatkan. “Akan lebih baik kalau calon peserta bisa dapat pembekalan yang lebih matang, supaya transisi ke lingkungan baru lebih mudah,” tambahnya.

Meski melelahkan, pengalaman di Thailand menjadi momen penting dalam pembentukan jati diri Ubaid sebagai calon guru Bahasa Inggris yang berjiwa global namun berpijak pada nilai-nilai Islam.

“Saya belajar bahwa guru bukan hanya pengajar, tapi juga pembelajar seumur hidup. Di Thailand, saya menemukan keseimbangan antara ilmu, budaya, dan iman.”

Melalui Program Asistensi Mengajar (ASJAR) ini, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN KHAS Jember terus menunjukkan kiprah globalnya mewakili kampus dengan semangat pembelajar lintas budaya dan nilai keislaman yang kuat.

;