info@uinkhas-jember.ac.id 081336843006

Belajar di Negeri Gajah Putih: Kisah Muhammad Nabil Mengajar Bahasa Inggris di Thailand

Home >Berita >Belajar di Negeri Gajah Putih: Kisah Muhammad Nabil Mengajar Bahasa Inggris di Thailand
Diposting : Senin, 20 Oct 2025, 22:46:29 | Dilihat : 55 kali
Belajar di Negeri Gajah Putih: Kisah Muhammad Nabil Mengajar Bahasa Inggris di Thailand


Narathiwat, Thailand (2025) – Pengalaman tak terlupakan datang dari Muhammad Nabil, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, yang terpilih mengikuti Program Asistensi Mengajar (ASJAR) di Ban Buketamong School, Kecamatan Cho-Airong, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan.

Nabil mengaku termotivasi mengikuti program ini setelah mendengar cerita dari angkatan sebelumnya. “Saya ingin mengenal lebih dekat sekolah, budaya, dan sistem pendidikan di Thailand. Ini kesempatan yang luar biasa untuk belajar di luar kelas,” ujarnya.

Selama mengajar di tingkat SMP, Nabil menghadapi tantangan utama berupa perbedaan bahasa. Tidak semua siswa memahami Bahasa Melayu atau Inggris, sehingga ia harus berkreasi dengan berbagai media pembelajaran seperti flash card, bahasa isyarat, dan visual interaktif agar pelajaran tetap menarik dan mudah dipahami.

“Kadang saya harus berkomunikasi dengan kombinasi bahasa Inggris terbatas dan bahasa tubuh. Tantangan itu justru melatih kreativitas saya sebagai calon guru,” jelasnya sambil tersenyum.

Kegiatan mengajar di Thailand ternyata sangat padat. Siang hari Nabil mengajar di sekolah, sementara malam hari diisi dengan kegiatan bersama komunitas pendidikan setempat. Ia mengaku awalnya mengira program ini hanya sebatas kegiatan mengajar biasa, tetapi kenyataannya lebih intens dan menuntut manajemen waktu yang disiplin, terutama saat harus menyelesaikan laporan ASJAR dan penulisan skripsi di sela-sela jadwal yang padat.

Meski begitu, pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam proses pendewasaannya. Ia belajar bahwa menjadi guru tidak hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga membangun empati dan adaptasi lintas budaya.

Dalam kesan dan pesannya, Nabil menekankan pentingnya persiapan bahasa sebelum berangkat.

“Belajarlah Bahasa Thailand walau sedikit. Tidak semua orang bisa Bahasa Melayu, dan dialeknya pun berbeda. Jadi, komunikasi jadi tantangan besar,” sarannya.

Nabil berharap program ASJAR dapat terus berlanjut dengan jangkauan yang lebih luas, agar semakin banyak mahasiswa UIN KHAS Jember mendapatkan pengalaman internasional yang berharga.

“Thailand membuka mata saya bahwa mengajar adalah seni adaptasi. Semoga tahun depan lebih banyak teman-teman TBI yang berani mencoba,” tutupnya.

Melalui program ini, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris tidak hanya melatih kemampuan mengajar di lingkungan lintas budaya, tetapi juga menyerap nilai global citizenship dan semangat santri-educator yang menjadi ciri khas UIN KHAS Jember.

;